Parenting Blog

Membahas tentang Ayah, Ibu dan Anak agar Hubungan Lebih Harmonis

ASI dalam pandangan Islam

ASI dalam Pandangan Islam – Agustus adalah bulan istimewa bagi kemerdekaan Indonesia, namun tidak hanya itu, di pekan pertama bulan ini pula seluruh dunia merayakan Pekan ASI Sedunia.

Pekan ASI Sedunia yang jatuh pada setiap tanggal 1-7 Agustus merupakan gerakan menyusui secara global yang diinisiasi oleh Forum World Alliance for Breasfeeding Action (WABA) yang digelar oleh UNICEF, di AS tahun 1991.

Gerakan ini menyediakan dukungan untuk para ibu agar bisa melaksanakan tugasnya yaitu menyusui.  Hingga saat ini sebanyak 170 negara di dunia turut berpartisipasi dalam memperingati Pekan ASI Sedunia.

Tahun 2021 ini, Pekan ASI Sedunia mengangkat tema Protect Breastfeeding : A Shared Responsibility (Perlindungan Menyusui: Tanggung Jawab Bersama).

Tema ini sejalan dengan tantangan menyusui di masa pandemi, dimana banyak anak-anak yang kehilangan hak mendapatkan ASI karena ibu meninggal dunia akibat COVID-19.

Masa pandemi ini juga menyulitkan ibu untuk pergi ke fasilitas kesehatan karena adanya pembatasan, belum maksimalnya layanan telekonseling dan masih banyaknya hoaks yang beredar tentang menyusui seharusnya menjadi perhatian kita bersama.

Karena manfaat ASI, tidak hanya dirasakan oleh ibu dan bayi namun semua komponen keluarga, masyarakat hingga negara. Maka sudah sewajarnya bila perlindungan menyusui menjadi tanggung jawab bersama.

ASI dalam Pandangan Islam

sumber: unsplash (@iwolski)

ASI dalam Pandangan Islam

Seorang ibu memiliki peran yang penting dalam mendidik dan memberikan lingkungan yang baik bagi anak-anaknya.

Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya, seorang ibu yang menanamkan nilai-nilai agama, mengajarkan shalat, puasa, menguatkan aqidah, membentuk akhlak, hingga anak mampu beribadah, hidup mandiri, hidup berkeluarga dan bermasyarakat.

Seorang ibu juga yang memberikan lingkungan yang baik untuk anak-anaknya bahkan dimulai sejak dalam kandungan.

Lingkungan pertama seorang anak adalah rahim seorang ibu. Rahim yang berarti penyayang, tempat yang penuh dengan kasih saying dimana seorang anak mendapatkan makanan langsung dari ibunya.

Apa yang ibu makan, diberikan untuk anak. Hingga suara yang pertama didengar oleh anak adalah detak jantung ibunya, maka anak dapat merasakan apa yang dirasakan oleh ibu. Kemudian ketika anak itu lahir, apa peran dan tugas seorang ibu selanjutnya? Menyusui anaknya. Bahkan Allah memerintahkan secara langsung di dalam Al Qur’an

“Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban bagi ayah memberi nafkah, makan dan pakaian mereka (kepada para ibu) dengan cara ma’ruf.” (QS. Al Baqarah: 233)

Ayat di atas mengandung banyak sekali hikmah, Allah memerintahkan agar ibu menyusui anaknya hingga usia dua tahun.

Usia ini dianggap masa menyusui yang sempurna karena pada masa ini, adalah masa emas tumbuh kembang anak. The golden age 1000 hari pertama kehidupan seorang anak manusia.

Dalam ayat ini pula, Allah mewajibkan bagi para ayah agar memberi nafkah, memastikan makanan dan gizi ibu serta anak tercukupi dan berbuat baik terhadap keduanya.

Ini menunjukkan betapa Allah Maha Adil dan Bijaksana memberikan peran bagi ibu dan ayah untuk bekerjasama menunaikan tanggung jawab menyusui secara bersama-sama.

Baca Juga: Tips Mengajarkan Anak Menabung

ASI Kurang dari Dua Tahun Tidak Dosa tapi Sebaiknya Cari dan Angkat Ibu Susuan

“Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya (melalui persetujuan) dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran dengan cara yang patut.” (QS. Al Baqarah: 233)

Ayat di atas menjelaskan betapa pentingnya ASI dalam pandangan Islam untuk tetap diberikan kepada bayi hingga usianya dua tahun. Bila ibu berhalangan memberikan ASI untuk anaknya karena ASI yang tidak lancar karena penyakit dan keterbatasan lainnya, islam menganjurkan untuk tetap diberikan ASI dari ibu susuan.

Saat ini, juga sudah tersedia komunitas yang menyediakan dukungan untuk ibu menyusui hingga bank ASI.

Tetap Beri ASI Meski dalam Kondisi Sulit

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para Rasul.” (QS. Al Qashash: 7)

Kisah ibu Nabi Musa as yang tercatat dalam ayat Al Qur’an di atas mengisyaratkan betapa pentingnya memberi ASI untuk anak bahkan di tengah kondisi sulit sekalipun. Dikisahkan, pada masa itu Firaun seorang raja yang zalim bermimpi akan lahir seorang bayi laki-laki yang akan menjatuhkan dan merebut kekuasaannya.

Firaun pun menyuruh tentaranya agar membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Bayi Musa as pun terancam, hingga Allah menurunkan surat Al Qashash ayat 7 di atas, agar ibu Musa menghanyutkan bayi Musa ke sungai.

Singkat cerita, Allah mempertemukan Asiah istri Firaun dengan bayi Musa dan membuatnya jatuh hati hingga berhasil meluluhkan hati Firaun agar mengangkat Musa sebagai anak.

Bayi Musa yang masih menyusu itu pun dicarikan ibu susuan, namun tidak ada seorang wanita pun yang berhasil membuat bayi Musa mau menyusu. Hingga terpilih satu orang wanita yang berhasil membuat bayi Musa menyusu, yaitu ibu kandung Nabi Musa as.

“Kami mencegahnya (Musa) menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(-nya) sebelum (kembali ke pangkuan ibunya). Berkatalah dia (saudara perempuan Musa), “Maukah aku tunjukkan kepadamu keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” (QS. Al Qashash: 12)

Di tengah kondisi yang mengancam nyawa bayinya, ibu Nabi Musa tidak menyerah, tetap berjuang, berdoa dan bertawakkal kepada Allah SWT agar diberikan jalan keluar hingga bisa menyelamatkan anaknya. Mengembalikan Musa as kepangkuannya dan bisa menyusui bayinya.

“Hati ibu Musa menjadi hampa. Sungguh, hampir saja dia mengungkapkan (bahwa bayi itu adalah anaknya), seandainya Kami tidak meneguhkan hatinya agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah).” (QS. Al Qashash: 10)

Baca Juga: Pemberian Terbaik untuk Anak

ASI dalam Pandangan Islam

sumber: unsplash (@svalenas)

Peran dan Tanggung Jawab Keluarga dalam Perlindungan Menyusui

Perlindungan menyusui adalah tanggung jawab bersama, dalam hal ini mulai dari lingkungan terdekat ibu dan bayi yaitu ayah, kakek dan nenek, keluarga besar, tetangga hingga mayarakat memiliki peran dalam mendukung ibu agar bisa menyusui dengan optimal. Berikut ini hal-hal yang bisa kita lakukan dan telah Allah isyaratkan di dalam Al Qur’an

  • Memberi asupan dari makanan yang halal, baik dan bergizi

Ibu menyusui membutuhkan asupan gizi lebih dari kebutuhan biasa (Tinggi Energi Tinggi Protein). Hal ini bertujuan untuk menjaga kesehatan ibu selama menyusui dan menghasilkan ASI yang cukup secara kualitas maupun kuantitasnya.

Selain bergizi seimbang sesuai kebutuhan ibu menyusui, sebaiknya ibu menghindari makanan tidak thayyib (baik) seperti makanan yang dapat merangsang, terlalu asam, terlalu pedas, tidak merokok dan menjauhi asap rokok, menjauhi minuman beralkohol, dan membatasi minuman berkafein seperti kopi.

Dan hanya memakan makanan yang halal baik jenisnya, dan cara memperolehnya.

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 168)

 

  • Menjaga kesehatan psikologis ibu

Makan dan minumlah dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Rabb yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.” (QS. Maryam: 26)

Ayat di atas diturunkan kepada Maryam, ibu Nabi Isa as. saat sedang mengandung. Selain makan dan minum untuk memenuhi kebutuhan gizi, Allah juga memerintahkan Maryam agar menjaga kesehatan mentalnya selama mengandung hingga menyusui.

Hal ini karena faktor psikologis memberi pengaruh yang signifikan terhadap kelancaran produksi ASI.

  • Peran suami dan ayah siaga

Nabi Muhammad saw bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku.” (HR At Tirmidzi no.3895)

Sudah sepatutnya para suami dan ayah mencontoh Nabi Muhammad SAW, baik sikap, perbuatan dan perkataan kepada istri dan anak-anaknya.

Selain lemah lembut dan penyayang, sebagai seorang suami, Nabi Muhammad SAW tidak pernah segan dan enggan membantu urusan domestik rumah tangga.

Dalam beberapa riwayat, beliau seringkali membantu istri-istrinya mengerjakan hal-hal sederhana seperti mengangkat ember dan menjahit bajunya.

Aisyah ra. istri Rasulullah SAW berkata :”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba saat shalat maka beliau pergi untuk shalat.” (HR. Bukhari)

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan oleh ayah untuk mendukung ibu menyusui:

  • Kondisi pasangan mungkin akan mengejutkan para ayah, perubahan fisik dan kondisi psikis ibu yang naik turun hingga mengalami baby blues dapat disebabkan karena kurangnya dukungan dan perhatian dari ayah. Oleh karena itu, ayah harus mendukung ibu memberi ASI khususnya ASI ekslusif di masa 6 bulan pertama.
  • Mendengarkan cerita istri dengan penuh cinta, menanyakan keadaan istri dan sigap jika ada keluhan
  • Membantu kebutuhan harian istri, sampai mengantar istri ke kamar mandi hingga mencuci baju dan popok bayi
  • Berikan istri hadiah, juga kata-kata positif yang bisa membentengi istri dari pikiran negatif dan melindungi istri dari tamu, keluarga maupun tetangga yang super kepo
  • Aktif berdiskusi dengan istri dan menjaga perasaan istri jika ada perbedaan pendapat dengan ibu/mertua dalam hal mengasuh anak
  • Membereskan urusan administratif seperti akta kelahiran, kartu keluarga, kartu identitas anak, dll

Baca Juga: Seni Mendidik Anak di Era 4.0

Penutup

Demikianlah penjelasan tentang ASI dalam Pandangan Islam. Semoga bisa menambah wawasan kamu tentang pentingnya ASI untuk bayi hingga ia berumur 2 tahun.

Islam mengatur sangat detail setiap hal termasuk dalam perawatan bayi agar menjadi bayi yang sehat dan bugar. ASI dalam pandangan Islam bukan hanya sekedar aktivitas untuk menumbuhkembangkan anak tetapi juga bentuk ibadah karena merawat karunia sekaligus titipan Allah yang begitu berharga.

Bila kamu menyukai artikel tentang anak dan bayi. Kamu bisa baca lebih lanjut di blog ini pada Topik Anak dan Bayi

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *