Parenting Blog

Membahas tentang Ayah, Ibu dan Anak agar Hubungan Lebih Harmonis

pernikahan dalam islam

Pernikahan dalam Islam– Pernikahan adalah momen yang pastinya ingin diraih oleh sebagian besar orang. Terutama mereka yang sudah lama menjomblo. Ya meskipun ada aja sih yang memutuskan untuk tidak menikah.

Apakah itu masalah? Ya tidak juga karena pada dasarnya setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Namun, sangat disayangkan bila pernikahan tidak dilangsungkan.

Karena generasi masa depan harus diwujudkan dan dibentuk menjadi calon generasi yang gemilang. Bukankah, Anda juga ingin memiliki keturunan yang nantinya bisa banyak membantu Anda di hari tua?

Bila kita menilik pandangan umum, pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan menjadi momen bersatunya kedua insan yang saling jatuh cinta. Mereka bisa jadi dipertemukan dengan tahap ta’aruf ataupun pacaran.

Lalu, bagaimana dengan pernikahan dalam Islam?

Apakah sama seperti pandangan pernikahan pada umumnya? Yuk simak artikel ini sampai habis.

Pernikahan Dalam Islam

sumber: Padangkita.com

Pernikahan dalam Islam

Pernikahan diambil dari bahasa arab yaitu, an-nikh yang artinya menginjak di atas, melalui, menaiki, bersenggama atau bersetubuh. Para ulama fiqh yang termasuk ke dalam imam mazhab yaitu Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Hambali dan Imam Maliki mendefinisikan pernikahan/perkawinan:

akad yang membawa kebolehan (bagi seorang laki-laki untuk berhubungan badan dengan seorang perempuan) dengan (diawali dalam akad) lafazh nikah atau kawin, atau makna yang serupa dengan kedua kata tersebut”.

Landasan dari pernikahan di dalam Islam terdapat pada QS. Ar-Rum ayat 21,

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Ayat ini sering dilafadzkan dalam pernikahan ketika mengisi khutbah nikah atau mengawali pernikahan dengan tilawatil qur’an.

Baca Juga: Inilah Seni Mendidik Anak di Era 4.0

Dasar Hukum Pernikahan

Ini yang menarik dalam pernikahan yaitu adanya hukum yang berbeda-beda karena disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Ia bisa termasuk wajib, sunnah, makruh, mubah bahkan haram. Yap, lagi-lagi disesuikan dengan situasi dan kondisi.

–> Wajib, hukum ini berlaku apabila seseorang tidak menikah maka ia bisa tergelincir ke dalam zina dan puasa sudah tidak bisa membentengi dia terlebih dia sudah mampu.

–> Sunnah, hukum ini berlaku apabila ia sudah mampu dan tetap bisa menahan nafsu apabila tidak menikah.

–> Makruh, hukum ini berlaku apabila ia sudah mampu, bisa menahan nafsu namun menikah hanya karena terpaksa. Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan mudharat apabila ia menikah.

–> Mubah, hukum ini berlaku apabila ia sudah mampu, bisa menahan nafsu namun menikah hanya untuk kesenangan semata.

–> Haram, hukum ini berlaku apabila pernikahan yang terjadi akan membuat suami tidak bisa memenuhi haknya atau suami memiliki niat untuk menyakiti istri begitupun sebaliknya. Haram juga hukumnya pernikahan seseorang yang masih masih mahram.

Hal yang Perlu Ada ketika Menikah

Dalam subbab ini akan lebih dibahas ke arah rukun dan syarat. Setiap agama pasti memiliki rukun dan syaratnya masing-masing dalam perihal pernikahan. Termasuk agama Islam.

Hal seperti masuk kamar mandi aja dibahas tata caranya apalagi bicara soal pernikahan. Nah, apa saja sih rukun dan syarat pernikahan dalam Islam?

Rukun

Beberapa rukun pernikahan agar pernikahan Anda berjalan dengan lancar dan SAH secara agama, diantaranya:

–> Adanya calon mempelai dari kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan).

–> Adanya wali dari pihak perempuan. Adapun laki-laki tidak perlu wali.

–> Hadirnya dua orang saksi untuk memastikan keabsahan pernikahan.

–> Shighat (ijab kabul) yang berlangsung antara wali calon mempelai perempuan dengan calon mempelai laki-laki.

Keempat rukun ini harus dipenuhi bila pernikahan ingin SAH. Satu saja tidak ada maka pernikahan tersebut dianggap batal.

Syarat

Syarat ini bisa dibilang derivasi atau breakdown dari keempat rukun di atas.

  1. Calon Suami
    -> Harus berjenis kelamin laki-laki.
    -> Beragama Islam
    -> Jelas identitasnya.
    -> Setuju untuk menikah.
    -> Tidak ada hambatan untuk menikah.
  2. Calon Istri
    -> Berjenis kelamin Perempuan
    -> Beragama Islam (meskipun ada pendapat yang membolehkan dari non muslim (nasrani atau yahudi) tetapi tetap disarankan untuk tetap 1 agama)
    -> Jelas Identitas
    -> Setuju untuk menikah.
    -> Tidak ada hambatan untuk menikah.
  3. Wali
    -> Berjenis kelamin laki-laki.
    -> Dewasa
    -> Memiliki hak untuk menjadi wali pihak perempuan.
    -> Berakal Sehat.
    -> Beragama Islam.
    -> Tidak sedang berihram.
  4. Saksi
    -> Minimal ada 2 orang.
    -> Kehadirannya ada di dalam proses ijab qabul.
    -> Memahami proses akad nikah dan tujuan dibaliknya.
    -> Beragama Islam.
    -> Adil.
    -> Dewasa.
  5. Shighat (ijab kabul)
    Tidak ada syarat khusus untuk ijab kabul, asalkan ia dapat didengarkan secara jelas dan menggunakan bahasa yang eksplisit. Ia juga harus dapat didengarkan oleh kedua saksi. Ijab kabul juga dapat dilakukan secara online

Penutup

Jadi intinya pernikahan didalam Islam adalah wujud Ibadah kepada Allah SWT. Ia memiliki rukun dan syarat yang harus dipatuhi oleh setiap insan muslim yang ingin menikah.

Semoga artikel ini bermanfaat dan silahkan sebarkan seluas-luasnya. Apabila ingin mengikuti informasi seputar pernikahan dapat terus memantau blog ayah ibu ini.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *